Tujuan Misi Dalam Perjanjian Lama

“Perjanjian Lama tidak berisikan misi; Perjanjian Lama itu sendirilah misi dalam dunia. Dr. George Peters berkata, “Perjanjian Lama adalah buku misi dan Israel adalah bangsa misi.” Kebenaran ini bisa dilihat ketika kita menelusuri sejarah Tuhan dengan manusia, mulai dari Kitab Kejadian sampai kepada panggilan terhadap Abraham, bagaimana Tuhan menghadapi Israel, dan firman Tuhan yang menubuatkan kedatangan Juru Selamat.

Penciptaan, Kejatuhan Manusia, dan Janji Pertama Menuju Keselamatan

Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya – Kejadian 1:27. Ia menciptakan manusia untuk memenuhi kehendak-Nya, yang kita sebut mandat kebudayaan – Kejadian 1:28. Tuhan menempatkan manusia di dalam taman Eden – Kejadian 2:8, dan memberinya Hawa sebagai penolongnya untuk melaksanakan kehendak-Nya – Kejadian 2:18. Tuhan menyatakan kepada Adam apa yang diharapkan-Nya dari dia – Kejadian 2:16-17 -- Adam harus mengajar istrinya.

Kejadian 3 memuat kisah kegagalan mereka mematuhi perintah-perintah Tuhan -- permulaan ketidakpatuhan manusia dan kejatuhannya ke dalam dosa. Akibatnya, Tuhan bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan-Nya -- mengusir Adam dan Hawa dari taman yang indah itu. Sehubungan dengan keputusan Ilahi yang dijatuhkan kepada ular yang telah memperdayakan Adam dan Hawa, maksud yang terkandung dalam hati Tuhan untuk mendamaikan manusia dengan Diri-Nya sendiri, dan untuk memulihkan dia kepada maksud-Nya yang sesungguhnya, bisa di lihat dalam – Kejadian 3:15, bahwa benih wanita itu akan meremukkan kepala ular. Dr George Peters menyebut hal ini “sebuah janji yang memiliki arti luas”, sebab janji itu diberikan kepada seluruh umat manusia. Dia menandaskan pentingnya “segi rasial” karena ketika Kristus menjadi Juru Selamat manusia, maka Kejadian 3:15 digenapi. Dalam Kejadian 3:21, Tuhan membuatkan bagi mereka pakaian dari kulit binatang, lalu mengenakannya kepada mereka, dan dengan cara itu menunjukkan penutup dosa yang akan disediakan-Nya kelak.

Panggilan Abraham

Hubungan Tuhan dengan manusia melalui panggilan atas diri Abraham, seperti yang tertulis dalam Kejadian 12 “bersifat khusus jika dipandang dari segi metodenya, tetapi bersifat umum jika dilihat dari sudut perjanjian, rancangan, dan akibatnya”. Tuhan memanggil satu orang, tetapi di saat yang sama, Ia memikirkan seluruh dunia – Kejadian 12:1-3. Tuhan ingin memberi berkat dan keselamatan kepada semua ras dan bangsa melalui satu orang, dari benih dan keturunannya. Tuhan tidak memanggil Abraham untuk kepentingan Abraham sendiri, melainkan dengan pandangan ke depan yakni demi umat manusia. Jadi, janji-janji Allah kepada Abraham memunyai tujuan umum. Anak Abraham -- Isak, mewarisi janji ini, kemudian Yakub – Kejadian 26:4; 28:14, lalu Yehuda – Kejadian 49:10, dan sekali lagi kita jumpai bahwa Firman itu menunjuk kepada Juru Selamat yang akan datang! Jadi, dalam Kristuslah janji kepada Abraham digenapi. Tidak heran jika Injil Matius menggambarkan Dia sebagai “Anak Abraham” – Matius 1:1, dan mencatat perintah-Nya untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya! – Matius 28:19-20.

Bangsa Istimewa

Dalam kitab Keluaran kita mempelajari bagaimana Tuhan mengangkat bangsa Israel, serta mengingatkan bahwa merekalah pewaris-pewaris Abraham dan sekaligus pewaris janji Tuhan – Keluaran 19:4-6a. Melalui mereka, Tuhan akan memberkati bangsa-bangsa. Melalui mereka, Dia akan menyampaikan rencana keselamatan-Nya sampai kepada suku bangsa di tempat yang paling terpencil sekalipun! Israel akan menjadi sebuah kerajaan imam dan bangsa yang kudus – ayat 6, milik Tuhan yang berharga di antara segala bangsa, sehingga melalui mereka Dia bisa mengirimkan Juru Selamat ke dalam dunia. Dr George Peters mengingatkan bahwa Tuhan tidak saja memanggil bangsa Israel untuk menjadi umat-Nya, tetapi juga untuk menjadi hamba-Nya. Hak-hak istimewa yang mereka miliki, tentu bertautan dengan tanggung jawab yang unik pula. Mereka harus memancarkan kemuliaan Tuhan di antara bangsa-bangsa, dan meski masih hidup di tengah bangsa-bangsa di dunia, mereka harus mengasingkan diri dalam hal mematuhi hukum-hukum Tuhan dengan sempurna.

Bagaimanakah caranya, umat Tuhan menunjukkan Dia kepada bangsa-bangsa? Dr. George Peters menerangkan hal ini. Perjanjian Lama menjunjung tinggi metode sentripetal, yang bisa diumpamakan sebagai sebuah magnet suci yang memunyai daya tarik ke arah dirinya sendiri. Dengan menjalani sebuah kehidupan di hadirat Tuhan yang disertai rasa takut kepada-Nya, Israel mengalami berkat Tuhan. Dengan cara ini, mereka harus membuat kejutan bagi bangsa-bangsa lain, sehingga mereka tertarik kepadanya. Israel juga membangkitkan rasa ingin tahu mereka, lalu menarik mereka ke Yerusalem dan kepada Tuhan seperti sebuah magnet. Unsur universal (bukan universalisme) harus diwujudkan dengan jalan menarik orang-orang kepada Tuhan.

Waktu bangsa Israel menyatakan kemuliaan Tuhan kepada bangsa-bangsa, mereka harus menjadi imam Allah dan harus melaksanakan pelayanan imamat dan perantara di dunia ini – “Tidak ada imam yang hidup untuk dirinya sendiri; dia baru memunyai nilai dan arti jikalau dia menjalankan fungsinya sebagai perantara”. Meskipun Israel dipanggil dan diberkati Tuhan, mereka tidak selalu menyadari kedudukannya dan tidak senantiasa melayani umat manusia seperti yang Tuhan kehendaki. Mereka juga telah menyimpang dari panggilan dan tujuan Tuhan, maka Ia mengangkat nabi-nabi dengan jabatan Ilahi untuk mengingatkan umat-Nya akan kedudukannya yang sebenarnya.

Penghambaan Israel kepada Tuhan dan Kedatangan Juru Selamat

Dalam kitab Yesaya, penghambaan Israel kepada Tuhan digambarkan paling lengkap, terutama dalam pasal 40 sampai 55, di mana berulang kali Israel digambarkan sebagai “Hamba-Ku”. Tuhan telah membentuk mereka untuk diri-Nya sendiri, untuk memberitakan kemasyhuran-Nya (Yesaya 43:21). Kepada siapa? Ayat 9 memberikan jawabannya: “kepada bangsa-bangsa.” Meskipun pasal-pasal dalam kitab Yesaya dengan jelas berbicara mengenai Israel sebagai hamba Tuhan (Yesaya 49:3), pada saat yang sama ia juga memperkenalkan Hamba Tuhan yang ideal, yakni Juru Selamat yang akan datang. Dia sendirilah yang bisa mewujudkan penghambaan yang sempurna seperti yang diharapkan oleh Tuhan dan yang menyenangkan hati Tuhan.

Firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” – Yesaya 49:6. Dengan kedatangan Juru Selamat, tujuan misi Tuhan dibawa menuju kesempurnaan, yakni yang dimulai dari Kejadian 3:15, dilanjutkan melalui panggilan Abraham dalam – Kejadian 12, dan melalui pemulihan Israel sebagai imamat. Dalam Perjanjian Lama ditunjukkan dengan jelas apa yang menjadi tujuan utama Perjanjian baru yakni, “Alkitab menyebutkan hanya ada satu tujuan Tuhan menyelamatkan umat manusia”.

klik iklan sponsor